Jangan Mudah Berhutang, Ini Dampaknya

Jangan Mudah Berhutang
Ilustrasi kegiatan berhutang uang. Warning: Jangan Mudah Berhutang karena ada dampaknya. Foto diambil pada Rabu (8/4/2026).

Berhutang bukan tidak boleh, tetapi sebagian orang justru menganggap enteng perkara hutang. Dalam ajaran Islam, hukum hutang piutang adalah diperbolehkan asal sepakat akan mengembalikan hutang tersebut sesuai yang disepakati.

Salah satu yang sering dijadikan hutang adalah uang. Uang merupakan alat untuk membeli suatu barang maupun jasa. 


Dalam berbagai aspek kehidupan, uang merupakan hal penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut misalnya membeli kebutuhan dasar rumah tangga seperti makanan, minuman, biaya listrik plus PDAM, biaya pendidikan, dan lain sebagainya.

Jika seseorang sedang tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka cukup berpotensi berhutang uang kepada orang yang dikenalnya misalnya saudara, tetangga, teman, dan sebagainya.

Walau sekarang banyak yang meminjam uang lewat pinjol (pinjaman online)

Pada kesempatan kali ini, penulis menitik beratkan bahaya berhutang. Apalagi jika sampai meninggal namun hutang belum terbayarkan. 

Memang benar, jika seseorang meninggal dan masih punya hutang akan dibayarkan oleh ahli waris. Tetapi tidakkah berfikir semua akan berjalan dengan baik? Apakah yakin meninggalkan banyak harta? Bukankah kita ingin meninggal dalam keadaan damai tanpa hutang?

Perlu diketahui, bahaya meninggal sebelum hutang terbayarkan antara lain sebagai berikut.

Melansir dari laman muslim.or.id berjudul "Hadist-Hadist tentang Bahaya Hutang", Sabtu (28/3/2026), terdapat 10 penjelasan bahaya berhutang antara lain berhutang ibarat meneror diri sendiri, hutang yang belum dibayar akan rugi di akhirat, dan ruh orang meninggal akan terkatung-katung.

Selain itu, berpotensi bersikap dzalim, berpotensi dan cenderung berdusta, diberikan kehancuran oleh Allah dengan niat tertentu. 

Dari sekian banyak dampak orang yang berhutang dan belum terlunasi, penulis mengambil 2 contoh untuk dijadikan renungan bersama sekaligus pembelajaran sebelum menyesal di kemudian hari. 

Pertama, ruh akan terkatung-katung disebabkan hutangnya. 

Seseorang yang sudah meninggal, namun masih memilki hutang maka nasibnya tidak jelas alias ruh terkatung-katung. Padahal tanpa dosa hutang pun seorang muslim pasti khawatir dengan dosa-dosa lainnya yang masih harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, akan diberi kehancurkan oleh Allah  

Warning yang kedua ini cukup mengkhawatirkan manakala berhutang, tetapi ada niat untuk tidak melunasinya. Jangan Mudah Berhutang, Ada Dampaknya. Hal tersebut sesuai dengan hadist Bukhari No. 2387. 

Mudah-mudahan kita sekalian dimudahkan dalam rejeki, diberikan kesehatan oleh Allah, kemudahan melunasi hutang (bagi yang punya hutang), dan komitmen untuk tidak menganggap mudah berhutang melainkan dalam keadaan darurat.

Pandangan Saya Terhadap Program MBG

Program MBG
Susana MBG sebelum dibagikan ke siswa-siswi salah satu sekolah swasta Surabaya, Kamis (31/3/2026)
,
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) merupakan program pemerintah era presiden Prabowo sampai sekarang tertanggal dipublikasikannya postingan blog ini. Program MBG berjalan bertahap semenjak diluncurkannya program pada sekitar awal tahun 2025 yang lalu.

Tujuan Program MBG (Makan Bergizi Gratis)

Adapun program ini berfokus pada sejumlah tujuan seperti kesehatan, pemenuhan gizi, dan mengurangi stunting khususnya bagi para pelajar untuk memaksimalkan fokus belajar. Selain itu juga untuk balita, ibu hamil, dan menyusui.

Terkait program yang masih berjalan ini, ada sejumlah sudut pandang hadir dari kalangan masyarakat. Ada yang menyambutnya dengan rasa suka cita, namun ada juga yang tidak setuju dengan adanya program tersebut. Pandangan Saya Terhadap Program MBG, simak disini link.

Dinamika Program MBG dari Kalangan Masyarakat

Hal itu karena ada dinamika-dinamika yang dirasakan oleh masyarakat. Berikut penulis merangkum dinamika yang kontra dengan program MBG tersebut.

Pertama, adanya kasus keracunan. Banyak kasus keracunan di sejumlah sekolah yang berbeda. Kedua, tidak sesuai porsi dan dinilai tidak memenuhi gizi lengkap. Bahkan, ada sejumlah makanan yang terindikasi basi sehingga makanan tidak diterima dan dikembalikan lagi.

Ketiga, adanya keterlambatan pengiriman. Keempat, adanya protes dari pihak tertentu karena merupakan pemborosan anggaran negara dengan nilai yang fantastis.

Berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan di atas, penulis ingin menarik sebuah kesimpulan bahwa terkadang kebijakan pemerintah tidak didukung secara menyeluruh oleh masyarakat. Hal itu (menurut/Pen) hal yang wajar, karena Indonesia menganut sistem demokrasi dan segenap warga memiliki hak untuk berpendapat.

Sudut Pandang Penulis Terhadap Program MBG

Berdasarkan sudut pandang penulis, program MBG adalah program yang baik bagi kalangan pelajar, balita, serta ibu menyusui butuh makan makanan yang bergizi. 


Beredar di sosial media, ada kalangan siswa yang mengatakan, dengan adanya program tersebut membantu uang sakunya, yang awalnya untuk dibeli makan kemudian dengan adanya MBG itu uang sakunya untuk keperluan yang lain.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan ada siswa yang tidak dibawakan uang saku dan bekal sekolah dari orang tuanya dengan berbagai alasan.

Penulis ingin menarik kesimpulan bahwa ada sejumlah program yang tidak langsung dirasakan orang miskin. Sementara melalui MBG ini adalah kebijakan pemerintah yang diberikan langsung kepada anak-anak bangsa untuk pemenuhan gizi dengan tidak tebang pilih. 

Semua dianggapnya sama tanpa memandang anaknya si orang kaya dan sebagainya karena sesuai dengan nilai-nilai pancasila yaitu Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Harapan penulis terhadap program MBG


Lebih lanjut, dinamika yang terjadi belakangan ini seperti keracunan, memang perlu untuk pengawalan secara massive dari pemerintah melalui pihak terkait. Semoga ke depannya lebih baik lagi. Aamin.

Terakhir, bagi penulis program MBG adalah program pemerintah yang baik. Mr. Presiden Prabowo memiliki hati mulia merealisasikan program makanan bergizi ini walau dengan anggaran negara yang tidak sedikit. Adanya dinamika serta kasus yang beredar tentu bukan sesuatu yang diinginkan.