Fakta Masjid Luhur Adi Buana Surabaya

Fakta Masjid Luhur Adi Buana
Suasana Masjid Luhur Adi Buana Surabaya, Jum'at (6/03/2026)

Masjid yang sekarang ini nampak begitu megah dengan fasilitas lengkap. Ada ruang untuk laki-laki (ikhwan) dan ruang perempuan (akhwat). Pada kesepatan kali ini, ijinkan penulis berbagi cerita pada saat sebelum bangunan itu berdiri.

Dulu sekitar tahun 2013, lokasi masjid sedikit ke utara dari masjid yang sekarang. Ukuran masjid layaknya mushala kecil dan hanya bisa menampung puluhan jamaah saja. 

Cerita Awal Kuliah di universitas PGRI Adi Buana

Pada awal mendaftar kuliah, itu sekitar tahun 2013. Sebagai mahasiswa baru (maba), ada latihan yang disebut dengan LKMM Pra TD yaitu latihan keterampilan manajemen mahasiswa tingkat dasar. Program tersebut merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh segenap mahasiswa baru dari berbagai jurusan saat itu. 

Adapun tujuannya adalah untuk persiapan membentuk jiwa kepemimpinan, manajemen diri, serta mengasah kemampuan dalam memecahkan suatu masalah, dan lainnya. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Hastabrata Unipa Surabaya yang belum terbangun sempurna.

Saat itulah penulis mengetahui bangunan GOR termasuk masjid luhur yang sebelumnya. Penulis masuk di ruang GOR untuk tujuan pelatihan dan ruang masjid untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur dan ashar di masjid secara berjamaah.

Kampus Unipa yang beralamatkan Dukuh Menanggal XII tersebut merupakan salah gedung Universitas Adi Buana yang biasa dikenal sebagai kampus II, sementara kampus yang penulis tempati usai diterima berkuliah yaitu di kampus I yang beralamatkan di Ngagel Dadi III-B/37 Surabaya.

Cerita Saat Berkuliah di Universitas PGRI Adi Buana

Satu tahun berkuliah di kampus I Unipa, lalu pindah ke kampus II. Pada awal kuliah di sana, tak lama dari itu dibangunlah masjid yang belum penulis pahami nama masjidnya. Masjid yang layaknya mushalla itu dirubuhkan dan dibangun masjid baru yang kemudian dikenal dengan masjid Luhur Adi Buana Surabaya.

Awal-awal masjid berdiri, diberlakukan untuk jamaah perempuan semuanya di lantai atas sementara untuk laki-laki di bawah. 

Terbaru, Masjid Luhur Adi Buana Surabaya

Baru-baru ini, saat penulis mampir ke kampus untuk sekedar shalat Ashar, Jum’at (6/3), di lantai bawah sudah ada penyekatnya khusus untuk jamaah perempuan. Sehingga di lantai bawah tersebut bisa digunakan untuk jamaah laki dan jamaah perempuan.

Jatuhnya Surabaya ke Tangan VOC

Jatuhnya Surabaya ke Tangan VOC
Salah satu spot ruang wisata Museum Surabaya Gedung Siola, Sabtu (7/3/2026)

Wisata Museum Surabaya Gedung Siola kini berbenah sangat baik dan signifikan sebab suasana nampak modern dan tidak membosankan. Setiap ruang yang berkelok-kelok itu menandakan hal yang identik, mulai dari masa pra kolonial sampai Surabaya masa depan.

Terdapat banyak ruang yang memberi wawasan-wawasan terkait sejarah Surabaya pada masa silam. Setiap titik ruang dilengkapi dengan narasi sederhana dan mudah dipahami. Narasi yang disampaikan berupa tulisan dengan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 


Tak hanya narasi saja, untuk memperkuat pemahaman, pengunjung ruangan dilengkapi dengan videorama, hingga bukti peninggalan sejarah yang pernah digunakan seperti foto, mata uang, alat, dan transportasi tradisional. 

Dari sekian banyak ruang itu penulis tertarik untuk menggali seputar awal mula masuknya Belanda. Dinarasikan di dalam ruang Wisata Museum Surabaya Gedung Siola bahwa awal mula masuknya Belanda di Surabaya di mulai sejak tahun 1617 masehi melalui kongsi dagang yang disebut dengan VOC (Vereenigde oost indische compagnie).

Berdasarkan sejarahnya, VOC mendarat di Ambon tahun pada 1602 dan menjalar sampai di Surabaya tahun 1617.

VOC datang (saat itu/pen) memiliki hak istimewa yang disebut dengan Oktroi, dimana dengan hak itu VOC bisa mengadakan perjanjian pemimpin daerah, memonopoli perdagangan rempah, dan membentuk angkatan perang, dan bahkan mencetak uang di Nusantara.

Pemimpin VOC yang datang ke Surabaya dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen dan langsung mendirikan sebuah kantor di Surabaya. Di waktu yang bersamaan, pada tahun 1617 tersebut terjadi pertikaian maupun konflik antara Surabaya dan Mataram. 

Akibatnya, kantor milik VOC ikut terdampak, sampai-sampai kantornya ditutup dan tidak beroperasi.

Selanjutnya, melalui kecerdasan daripada VOC, mereka yang tergabung dalam kongsi dagang tersebut menjalin hubungan baik dengan Mataram yang dipimpin oleh Amangkurat I dan pada akhirnya VOC mendapatkan izin operasi kembali di pulau Jawa, termasuk Surabaya.

Sayangnya, Amangkurat 1 tidak disukai dari kalangannya sendiri. Di berbagai daerah terjadi pemberontakan. Salah satunya adalah pemberontakan Trunojoyo di Madura. 

Tak hanya dari kalanggannya saja, anak dari Amangkurat I bernama Adipati Anom pun tidak menyukai kepemimpinannya, hingga terjadi momentum ingin kudeta ayahnya sendiri dari tahta kepemimpinannya.


Pemberontakan pun dilakukan bekerja sama dengan Trunojoyo, rakyat Surabaya, dan juga Hasanuddin dari Makasar yang kebetulan kalah dari VOC.

Kepemimpinan Trunojoyo dan pasukannya sangat handal dan menorehkan kemenangan dari sejumlah pemberontakan yang dilakoninya.

Kekhawatiran pun terbesit dari hati Adipati Anom dengan alasan Trunojoyo tidak mau menyerahkan Mataram kepadanya. Akhirnya ia pindah halauan dan mendukung kembali kepemimpinan ayahnya. 

Pertempuran pun terjadi hingga Mataram dipukul mundur ke daerah Wonosoyo dan Amangkurat I meninggal di Tegal. Selanjutnya Adipati Anom menjadi penguasa dengan gelar Amangkurat II.

Petaka mulai nampak semenjak Amangkurat II bersekongkol dengan VOC. Rupanya, ketangguhan Trunojoyo membuat Amangkurat II memilih jalan bersekongkol dengan VOC yang dipimpin Cornelis Speelman saat itu.  

VOC pun mengajukan syarat yang cukup berat berat bagi Amangkurat II diantaranya biaya perang harus ditanggung Amangkurat 2, sejumlah pelabuhan digadaikan, dan lainnya. Lihat videorama diskusi Amangkurat II dengan pihak VOC di Wisata Museum Surabaya Gedung Siola.

Meski begitu berat, demi suatu ambisi akhirnya Trunojoyo berhasil dikalahkan dan Amangkurat membangun kerajaan kartasura yang lokasinya dekat Solo.

Kemenengan atas Trunojoyo lantas menjadi sebab Jatuhnya Surabaya ke Tangan VOC membuat Surabaya secara de facto berada dalam kekuasaan VOC dan penyerahan resminya tahun 1743 masehi.