Mengantri merupakan kegiatan menunggu giliran untuk mendapatkan suatu layanan. Nomer antrian adalah nomor yang digunakan untuk mendapatkan giliran secara berurutan. Biasanya dimulai dari nomer kecil 1, 2, 3, dan seterusnya.
Perlu kita perhatikan, dalam mengantri harus bersikap sesuai aturan, terutama mengedepankan sikap sabar dan taat aturan.
Sebagian negara, sikap antri telah membudaya dan jika melanggar budaya antri maka akan dikenai sanksi sosial seperti dikucilkan hingga menjadi sasaran amarah orang lain. Seperti contoh di negara Jepang. Orang jepang dikenal sebagai negara, dimana orang-orangnya tertib aturan, disiplin, dan menghargai orang lain.
Bagi mereka, menjaga antri sama dengan menjaga sikap kesopanan. Sikap-sikap ini dapat diamati dengan mudah terutama saat berada di ruang publik seperti di stasiun, toko, toilet, dan lain-lain.
Hal tersebut bukan tanpa alasan. Mereka didik sejak dini bahkan sejak berada di bangku TK. Seperti saat akan makan siang dan masuk kelas.
Selain itu, budaya malu juga diterapkan, ada istilah "Meiwaku" yang artinya tidak mau merepotkan orang lain. Uniknya, tindakan menyerobot akan mendapatkan sanksi sosial. Bagi mereka yang nyerobot hanya akan membuat malu dirinya sendiri dan bahkan keluarganya.
Baca juga: Manfaat Pendidikan dari Kegiatan Antre
Kemudian, dapatkah budaya antri diterapkan di seluruh dunia? Tentu saja bisa. Penulis memberi contoh budaya antri di jepang bukan berarti di negara lainnya tidak menerapkan budaya antri. Dasarannya semua tertib aturan hanya oknum saja yang mungkin melanggar.
A note memberi contoh budaya antri Jepang karena orang jepang terkenal dengan budaya antrinya yang tertib.
Di Indonesia juga sama, orang-orangnya tertib dan menerapkan budaya antri. Bisa diamati saat berada di bank, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan lainnya.
Jika antrian bernomor mungkin cukup jelas, namun saat antri dengan tanpa nomor harus memfixkan posisi . Sebab terkait antri, penulis mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan saat mengisi bensin di pom.
Posisi saya saat itu berada diantara dua barisan. Saya berada di posisi terakhir sebelum kedatangan orang baru di belakang saya. Walau pu saya adalah pendatang pertama dari belakang saya, rupanya ada sedikit keraguan saya memilih barisan antrian.
Disitulah kesalahan saya sehingga posisi saya tidak benar-benar berada tepat mengantri di belakang. Akibatnya, walau saya datang lebih awal karena posisi saya seperti berbaris dua orang, saya dianggap keliru dan dirinyalah yang benar karena terlihat berbaris secara tertib.
A note "Tidak semua orang mengerti dan mau mengalah". Sontak saya merasa diserobot lalu mencoba menegurnya.
Ia menjawab, “Tadi kan masnya milih baris yang itu, kenapa berubah baris disini? Mendengar itu, saya mawas diri dengan menahan emosi dan legowo.
Berdasarkan peristiwa tersebut, penting untuk mengambil sikap mengalah agar tidak terjadi percekcokan maupun perselisihan.
Bagi penulis, tempat umum merupaan tempat bersama, tidak selayaknya kita mendahulukan kepentingan diri semata, semua tertib sesuai aturan. Mengantri dengan sabar berdampak positif pada jalannya operasional, terutama di tempat-tempat umum.

