Nonton Film Berjudul Children of Heaven di BGJ Surabaya

Film Berjudul Children of Heaven
Momen siswa-siswi, ortu, dan guru pendamping sebelum nobar film berjudul Children of Heaven di BGJ Surabaya.

Pada awal tanggal 8 Juni 2026, penulis mendapati pengalaman nonton film berjudul Children of Heaven di BGJ Surabaya, Senin (8/6/2026). 
Kegiatan ini juga diramaikan oleh sejumlah siswa-siswi sekolah kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya, mengingat tontonan ini bagian dari eduliterasi yang bermanfaat.


Film yang berjudul Children of Heaven disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan menarik perhatian semua pengunjung, mengingat isi film mengandung unsur kesabaran dan perjuangan dalam keadaan apapun. 

Dalam cerita, di pertontonkan sebuah keluarga yang hidup dalam keadaan kesusahan seperti terlilit hutang, sandal adik yang hilang, Ibunya sakit-sakitan, hingga dikejar debt collector karena belum bisa membayar sewa rumah.

Sementara itu dua anak bersaudara yaitu Ali dan Zahra, adiknya keduanya merupakan siswa yang semangat belajar di bangku SD (Sekolah Dasar).

Latar film ada di pedesaan. Adanya sungai, menjadi salah satu suasana yang identik dengan latar tersebut.


Suatu hari, Ali menjahit sepatu adiknya yang  rusak. Mampir ditoko kemudian sepatunya hilang. Akhirnya, mereka ke sekolah memakai sepasang sepatu secara bergantian agar tidak dihukum di sekolahnya mereka.

Kemudian saat bersekolah, adiknya melewati sungai dan ketika tiba-tiba sepatu kakaknya tersebut tercebur ke sungai akibat sepatunya yang kebesaran. Ia pun merasa sedih karena sepatu tersebut kebesaran dan seharusnya ia memakai sepatu miliknya yang dihilangkan kakaknya tersebut.

Akibatnya, ia harus sering telat dan dimarahi gurunya di sekolah. 
Untungnya, dalam akademik Ali cukup berprestasi, bisa dilihat ketika dia diberi soal di papan dia bisa menjawab dengan benar.

Ali dan adiknya itu diberi pesan oleh ayahnya agar harus kuat seperti mental baja. Jangan seperti tempe yang perlu diinjak-injak baru kuat dan semangat.

"Kita harus kuat! Miliki mental seperti mental baja, jangan seperti tempe yang perlu diinjak-injak baru kuat dan semangat!" pesannya.

Ceritanya pun berlanjut dimana seorang ayah dan anaknya mencoba peruntungan lewat jasa menjaga dan merawat tanaman. Bahkan menawarkan jasa melalui door to door dengan penuh semangat.

Mula-mula, di kasih sepeda dari pengurus masjid untuk melanjutkan tanaman hias.

Suatu ketika, ada seorang kaya raya butuh jasa tukang kebun karena yang biasa bertugas sedang puluang kampung. Anaknya pun berteman dengan Ali. Sejak itu mereka bekerja disana dengan pendapatan yang cukup memuaskan.


Walau demikian, ada saja godaan yang menghampiri mereka seperti kecelakaan dan sebagainya. Benar-benar menggambarkan perjuangan hidup yang disertai dengan rasa syukur dan sabar.

Membahas tentang Budaya Antri

tentang budaya antri
Momen warga menerapkan budaya antri di Puskesmas Bulak Banteng Surabaya, Rabu (24/6/2026)

Mengantri merupakan kegiatan menunggu giliran untuk mendapatkan suatu layanan. Nomer antrian adalah nomor yang digunakan untuk mendapatkan giliran secara berurutan. Biasanya dimulai dari nomer kecil 1, 2, 3, dan seterusnya. 

Perlu kita perhatikan, dalam mengantri harus bersikap sesuai aturan, terutama mengedepankan sikap sabar dan taat aturan.

Sebagian negara, sikap antri telah membudaya dan jika melanggar budaya antri maka akan dikenai sanksi sosial seperti dikucilkan hingga menjadi sasaran amarah orang lain. Seperti contoh di negara Jepang. Orang jepang dikenal sebagai negara, dimana orang-orangnya tertib aturan, disiplin, dan menghargai orang lain.

Bagi mereka, menjaga antri sama dengan menjaga sikap kesopanan. Sikap-sikap ini dapat diamati dengan mudah terutama saat berada di ruang publik seperti di stasiun, toko, toilet, dan lain-lain.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Mereka didik sejak dini bahkan sejak berada di bangku TK. Seperti saat akan makan siang dan masuk kelas.

Selain itu, budaya malu juga diterapkan, ada istilah "Meiwaku" yang artinya tidak mau merepotkan orang lain. Uniknya, tindakan menyerobot akan mendapatkan sanksi sosial. Bagi mereka yang nyerobot hanya akan membuat malu dirinya sendiri dan bahkan keluarganya.


Kemudian, dapatkah budaya antri diterapkan di seluruh dunia? Tentu saja bisa. Penulis memberi contoh budaya antri di jepang bukan berarti di negara lainnya tidak menerapkan budaya antri. Dasarannya semua tertib aturan hanya oknum saja yang mungkin melanggar.

A note memberi contoh budaya antri Jepang karena orang jepang terkenal dengan budaya antrinya yang tertib.

Di Indonesia juga sama, orang-orangnya tertib dan menerapkan budaya antri. Bisa diamati saat berada di bank, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan lainnya.

Jika antrian bernomor mungkin cukup jelas, namun saat antri dengan tanpa nomor harus memfixkan posisi . Sebab terkait antri, penulis mempunyai pengalaman yang kurang mengenakkan saat mengisi bensin di pom.

Posisi saya saat itu berada  diantara dua barisan. Saya berada di posisi terakhir sebelum kedatangan orang baru di belakang saya. Walau pu saya adalah pendatang pertama dari belakang saya, rupanya ada sedikit keraguan saya memilih barisan antrian. 

Disitulah kesalahan saya sehingga posisi saya tidak benar-benar berada tepat mengantri di belakang. Akibatnya, walau saya datang lebih awal karena posisi saya seperti berbaris dua orang, saya dianggap keliru dan dirinyalah yang benar karena terlihat berbaris secara tertib. 

A note "Tidak semua orang mengerti dan mau mengalah". Sontak saya merasa diserobot lalu mencoba menegurnya.


Ia menjawab, “Tadi kan masnya milih baris yang itu, kenapa berubah baris disini? Mendengar itu, saya mawas diri dengan menahan emosi dan legowo.

Berdasarkan peristiwa tersebut, penting untuk mengambil sikap mengalah agar tidak terjadi percekcokan maupun perselisihan.

Bagi penulis, tempat umum merupaan tempat bersama, tidak selayaknya kita mendahulukan kepentingan diri semata, semua tertib sesuai aturan. Mengantri dengan sabar berdampak positif pada jalannya operasional, terutama di tempat-tempat umum.