Menjaga pasien di rumah sakit sebenarnya terasa damai, suasana terasa sepi apa lagi weekends ntah itu Sabtu atau pun Minggu.
Rumah sakit itu ramai kalau pas lagi banyak pasien, apa lagi kalau ada pasien baru. Paling ramai lagi kalau ada calon pasien baru datang yang diakibatkan insiden. Tidak hanya warga saja yang biasanya ikut ke IGD, aparat juga terkadang terlihat untuk sekedar mengantarkan.
Rumah sakit itu tenang, sunyi, bisa mendatangkan ketenangan. Apalagi utk sekedar menjenguk teman atau tetangga yang sedang dirawat di rumah sakit.
Pebesuk, atau orang yang menengok pasien bisa memanfaatkan fasilitas yang ada. Misalnya toilet gratis, duduk di kursi, dan melihat pemandangan sekitar. Tak jarang di rumah sakit lingkungannya hijau ada berbagai tanaman dan juga pohon yang rindang.
Tapi sebagian bakal berpendapat berada di rumah sakit itu suatu yang membosankan dan tidak produktif. Alasan ini diperkuat jika harus melakukan kegiatan yang terjadwal misalnya kerja di lapangan, mengantar barang, berdagang di pasar, dan sebagainya.
Berbeda dengan rutinitas lainnya yang cenderung menggunakan gadget misalnya jualan online, bikin artikel, suka baca buku, nge-blog, melayani costumer melalui panggilan, main game dan lainnya. Mereka itu masih berpeluang untuk produktif.
Di rumah sakit juga biasanya ada kantin. Ini penulis sempat berfikir dan timbul tanya, bagaimana kalau misalnya ada warga datang ke rumah sakit tidak menjenguk dan bukan status sebagai pasien datang untuk mencari suasana berbeda? Misalnya hanya datang ke kantin rumah sakit untuk tujuan membeli snack, makanan, maupun minuman.
Penulis berfikir itu sah-sah saja karena tidak ada larangan kantin tersebut diperuntukkan. Hanya saja yang menjadi pertimbangan mungkin karena harga barang di kantin rata-rata sedikit lebih mahal. Tapi tempatnya yang higienis, rasanya kokya sepadan dan recommended ya?
Di rumah sakit itu banyak himbauan-himbauan dan juga informasi kesehatan. Apa lagi di lorong menuju ranap (ruang inap). Hal Ini menjadi nilai positif sebagai sarana edukasi. Penulis berpikir. Tidak perlu belajar kesehatan, cukup datang ke rumah sakit dan membaca semua himbauan melalui pampflet-pamflet maupun banner yang membahas tentang kesehatan. Ini menjadi salah satu Opini Ngawur Saat di Rumah Sakit. Apakah anda setuju dengan opini yg saya lontarkan? Tentu tidak bukan?
Sambil menunggu respon di kolom komentar, penulis melanjutkan pembahasan berada di rumah sakit.
Menemani pasien yang notabene keluarga harus sabar dan ikhlas untuk mendampingi dan memenuhi segala kebutuhannya misalnya mengantarkan ke kamar mandi, menyuap makanan, hingga mengurus administrasi yang sebagian orang menganggapnya rumit.
Jika semuanya dilakukan dengan hati ikhlas terhadap pasien serta mendoakan untuk kesembuhannya, maka insyaAllah akan dibalasnya dengan kebaikan pula. Amiin.
Selanjutnya, ke rumah sakit itu kita tidak boleh sembarang masuk. Ada jam besuk yang wajib dipatuhi semua pengunjung. Menyalahi aturan bisa-bisa ditegur keras.
Apalagi jam besuk berakhir, pesan implisitnya “Timbang eker-ekeran karo petugas mending ngalah utowo nrimo wae” meninggalkan ruangan meski hati belum mau sebenarnya.
Terakhir, satu-satunya ruangan di rumah sakit itu adalah di ruang ICU di ruang itu, hening. Suara cuma dari perawat itu pun sekali dua kali. Paling sering bunyi yang konsisten itu adalah salah satu bunyi alat tut tut tut.
Melansir dari sejumlah sumber alat yang tersedia di ICU misalnya mesin pemantau, EKG monitor, blood pressure monitor, dan lain-lain.
Disitu kita mendapatkan pelajaran, betapa pentingnya untuk bersyukur. Kita-kita diberi kesempatan bernafas dengan nafas yang lega dan diberi kesehatan lahir dan batin.

No comments:
Post a Comment
Silahkan berkomentar...