Usai perbaikan jalan di sekitaran kali Tebu, antisipasi sampah di kali dan bantaran sungai terus dilakukan. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk peduli pemerintah dan masyarakat terhadap keberlangsungan lingkungan yang bersih, terutama sungai.
Dalam hal ini, salah satu penyelenggara adalah yayasan kajian ekologi dan konservasi lahan basah (ECOTON). Upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi sungai dengan memasang pencegat sampah yang memanjang kedua sisi sungai.
Hal itu bertujuan agar sampah-sampah yang terhanyut sungai berhenti di area tersebut dan diamankan, dipilah, hingga diangkut ke tempat semestinya sehingga sampah-sampah yang ada tidak sampai ke laut dan mencemari lingkungan.
Sampah yang tercegat dieksekusi menggunakan alat yang disebut minidock. Ini merupakan salah satu sarana maupun fasilitas di dermaga mini tersebut. tujuannya adalah untuk sekedar meniriskan air sampah sekaligus mengumpulkannyanya sebelum dilakukan pemilahan.
Proyek mozaik kali Tebu ini berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Penulis sangat mengapresiasi upaya tersebut karena hasilnya sangat terlihat. Kali sudah tidak bersampah lagi, jauh lebih baik dari sebelumnya.
Namun permasalahan serupa nampaknya tidak akan pernah berhenti sampai permasalahan utama dilakukan yaitu kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Sewaktu-waktu kondisi sungai tersangkut banyak sampah di minidock. Penulis memiliki sedikit rasa geram melihat kondisi tersebut.
Air sungai semakin tercemar jika banyak sampah. Berkumpulnya sampah bukan karena tiba-tiba, yakin ada tangan-tangan sekelompok orang yang kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Sehingga sampah, pada akhirnya menggenang dan bahkan menumpuk di sungai dan menjadi pemandangan yang tidak elok.
Uniknya, di dermaga tersebut terdapat patung ikonik yang menyerupai bayi yang dilumuri sampah dan dalam keadaan menangis jegil. Hal itu menggambarkan lingkangan yang kotor, sungai yang kotor akan akan berdampak buruk terhadap anak kecil sekarang, terutama generasi-generasi yang akan datang.
Kawasan kali tebu yang ECOTON menyebutnya sebagai kampung MOZAIK, mereka mengajak segenap masyarakat dari berbagai kalangan untuk membiasakan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah yang ada di rumah, menghindari dari penggunaan plastik, dan saling menasehati lainnya jika dianggap melanggar pencemaran lingkungan. Tujuannya agar lingkungan menjadi bersih dan sehat untuk hari ini dan hari esok.

No comments:
Post a Comment
Silahkan berkomentar...