Sosok Ummi Bagi Saya

 
sosok ummi bagi saya
Sosok Ummi Bagi Saya. Foto Dokumenter Saat Ummi Menemani Saya di Acara Wisuda 2017 di Univ. PGRI Adi Buana Surabaya
Kasih sayang telah saya dapatkan semenjak saya masih berada di alam kandungan hingga dewasa ini. Sebagai anak ke-2 dari tiga bersaudara itu, saya merasa bangga memiliki sosok ummi bernama Muslimah atau Hj. Halima binti Kasan.

Dulu sekali semasa kecil, panggilan “emak” kepada ummi/mi' menjadi hal biasa sebelum ia pergi kerja ke Arab Saudi. Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik. Momen pulang pergi Arab Saudi-Indonesia atau sebaliknya terjadi beberapa kali.

Sewaktu saya masih kecil, di sebuah desa di kelurahan Tambak Agung, kelurahan Tanah Merah Laok Bangkalan, Saya dibesarkan. Kami sekeluarga menghabiskan waktu di sana. Namun, pada saat saya berumur 2 tahun, saya ditinggal sosok ummi. Demi cita-citanya, saya ikhlas jauh dari ummi dalam waktu yang lama.

Momen Kebersamaan Bersama Sosok Ummi

Dalam kesempatan ini, saya mencoba untuk mengingat kembali saat-saat kebersamaan bersama ummi. Sewaktu masih kecil, pada malam hari sebelum tidur, kami saling ngobrol. Saya pun diajak ngobrol bersama anggota keluarga lainnya. Mereka mengapresiasi hal-hal yang pernah saya lakukan atau pun yang saya ucap.

Lewat obrolan itu, saya merasa bahwa saya diperhatikan dan disayangi. Saya menyadari bahwa apresiasi merupakan hal yang sangat penting.
 
Pada malam itu, Saya diminta ummi untuk memijat kakinya. Katanya, saya itu punya bakat memijat karena mbah dari abah saya memiliki bakat untuk memijat. Di tengah-tengah saya memijat kaki ummi, ia bilang kalau nanti saat menarik jari kakinya sampai berbuyi, maka ia akan memberikan uang.

Besarnya uang yang akan saya dapatkan sesuai dengan nyaring tidaknya bunyi jari saat ditarik. Aturan mainnya adalah kalau bunyinya itu terdengar kecil “Cettir” maka hanya mendapatkan Rp50 saja dan jika bunyinya itu besar “Cettor”, maka saya akan diberikan Rp100.

Uang segitu  cukup untuk buat njajan di sekitar tahun 1993an jaman presiden Pak Harto. It’s for real, ummi saya memberikan itu kepada saya di keesokan harinya.

Momen Lain Kebersamaan Bersama Sosok Ummi

Momen lainnya adalah saat saya diajak ke Surabaya untuk silaturrahmi ke alm. Mbah Satam dan mbah almh. Bayyah di Banjar Sugihan, Tandes, Surabaya. Saat di perjalanan kami berdua menyeberangi selat Madura menggunakan jasa kapal Ferry Kamal-Ujung Surabaya.

Itu lah awal-awal saya diajak ke kota Surabaya dimana kala itu menjadi pemandangan baru bagi saya. Apa lagi bisa melihat laut, naik kapal, hingga merasakan di lingkungan perkotaan.

Saat di kapal, ada banyak tawaran kepada seluruh penumpang kapal. Tawaran tersebut berupa makanan, minuman, dan bahkan beberapa produk, salah satunya adalah mainan anak-anak.

Mainan yang saya ingat hingga sekarang adalah mainan pesawat-pesawatan yang kalau diputar maka berbunyi. Selain itu juga ada mainan kapal otok-otok. Alhamdulillah, ada momen saya dibelikan mainan itu oleh ummi. Sampai di Madura, baru saya bisa memainkannya menggunakan ember yang terisi air.

Momen Wisuda Ditemani Sosok Ummi

Singkat cerita, baru pada tahun 2017 ummi bisa kembali ke Indonesia dan pada tahun itu pula ummi bisa menemani saya wisuda ditemani juga paman Abu dan alm. paman  Zaini.Wisuda itu merupakan pencapaian yang bagus bagi saya belajar selama 4 tahun di tingkat universitas, khususnya proses mendapatkan gelar sarjana.

Kebersamaan bersama ummi pun saya abadikan berupa foto yang kebetulan saya posting di tulisan ini. Akhir cerita adalah tentang meninggalnya ummi. Meninggalnya ummi benar-benar tidak kami sangka sebelumya. Ummi yang notabene jarang sakit malah ummi meninggalkan kami sekeluarga. 

Meninggalnya Sosok Ummi

Rasa sedih yang belum selesai, dimulai meninggalnya paman Zaini, adiknya ummi pada Senin (26/07/2021) lanjut ummi pun menyusul meninggal pada Senin (9/8/2021). Keduanya, meninggalnya berselisih 2 pekan dengan jam yang hampir sama yaitu jam 13.00 dan jam 14.00 WIB.

Peristiwa Sakitnya Ummi

Di masa pandemi, kami sekeluarga tidak memberanikan diri untuk melakukan pengobatan ummi di rumah sakit. Kami memilih pengobatan di rumah beralamatkan desa Ruk Buruk, Baipajung. Setelah saya tanya kepada dokternya, ummi mengalami sakit pada lambungnya diikuti paru-parunya yang mengakibatkan ummi sesak nafas.

Ketidakmauan ummi mengonsumsi sesuatu, ditambah lagi dengan sesak nafasnya yang belum pulih menyebabkan ummi harus diinfus dan dioksigen. Setidaknya ada lebih dari 8 botol telah dihabiskannya pun dengan oksigen yang setidaknya 2 tabung dipakainya.

Sedikit banyak itu sudah membantu untuk pengobatan ummi. Namun, kondisinya yang tidak menentu dibarengi dengan ajal, ummi kami meninggal pada Senin (9/8/21). Hal tersebut membuat kami sekeluarga sedih namun kami juga harus tabah menerima kenyataan bahwa ummi kami telah dijemput oleh sang Khaliq.

Kami do’akan semoga ummi kami Khusnul Khatimah beserta keluarga lain yang telah meninggal semoga diampuni segala dosanya oleh Allah dan diterima segala amal kebaikannya. Amiin Ya Rabal ‘Alamin.

2
statement untuk sosok ummi saya. Ummi itu pekerja keras dan pintar bahasa Arabnya. Semoga nularin ke keturunannya, Amiin.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar...