Tampilan Saat Purnasiswa Sekolah Kreatif

Tampilan Sekolah Kreatif
Tampilan Saat Purnasiswa Sekolah Kreatif, Senin (19/6/2023)

Acara purnasiswa kelas 6 sekolah kreatif SD Muhammadiyah 20 Surabaya diselenggarakan di Fave Hotel Surabaya pada Senin (19/6/2023). Kegiatan wisuda tahun ini mengusung tema "Warna-Warni".

Tema yang diusung merujuk pada tampilan-tampilan siswa setelah siswa-siswi kelas 6 dipurna siswa. Tampilan cukup bervariatif, namun tetap mengedapankan tampilan yang berasal dari budaya nusantara menyesuaikan materi pembelajaran yang ada. 
 
Kegiatan wisuda berlangsung khidmat dengan nuansa warna-warni. Siswa-siswi kelas 6, baik dari kelas BJ Habibie, ir. Juanda, dan Ki Hajar Dewantara sangat antusias dengan kegiatan tersebut.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, Mars Muhammadiyah dan sambutan-sambutan. Selanjutnya pemanggilan wisudawan/wati purnasiswa, tahfidz/ah, dan sekaligus siswa berprestasi.
 
Sesuai dengan tema yaitu "warna-warni" tampilan-tampilan yang disajikan cukup beragam. Sejumlah tampilan yang disajikan merupakan proyek sesuai materi pembelaran di sekolah siswa-siswi yang bersangkutan. 

Beberapa daftar tampilan diantaranya adalah tari Saman, tari Remo, story telling, salawatan, al qur’an menjawab, Zumba dance, sains magic, drama dan beberapa lainnya. 

Ustadzah Erlin menuturkan kegiatan tampilan tersebut merupakan proyek sebagai ganti USEK (Ujian Sekolah). “Proyek ini sebagai pengganti Usek dan masing-masing dikaitkan sesuai mapel yang diajarkan di sekolah. Proyek ini dibentuk berupa tampilan yang bisa disaksikan khalayak umum”.

Melalui ide kreatifnya, siswa-siswi yang berjumlah 81 tersebut bisa menampilkan proyeknya dengan begitu apik di panggung wisuda. Tepuk tangan dari penonton pun kerap terdengar karena tampilannya yang bagus.  

Salah satu tampilan yang cukup unik adalah drama yang berjudul “Perang Sarung” diambil dari tradisi suku Bugis. Tampilan ini dimodif sebagai cerita yang menceritakan dua kelompok remaja yang pada akhirnya saling berperang menggunakan sarung dikarenakan hal sepele. 

Pada akhir momen itu, peperangan ditengahi oleh seorang kiai dan polisi. Kemudian keduanya menyadarkan mereka bahwa hal demikian tidaklah baik dilakukan jika sampai benar-benar menyakiti. Hal ini mengingatkan pentingnya dalam menjaga persatuan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar...